Kakatua Raja (Probosciger aterrimus)




Klasifikasi ilmiah

Kerajaan        :        Animalia

Filum             :        Chordata

Kelas             :         Aves

Ordo              :         Psittaciformes

Famili            :         Cacatuidae

Genus            :         Probosciger

Spesies          :         P. aterrimus

 

Kakatua Raja, atau Probosciger aterrimus dalam nama ilmiahnya, merupakan burung Kakatua yang berukuran besar dan berwarna hitam, dengan panjang tubuh sekitar 60 cm. Burung ini ditandai dengan kulit pipi berwarna merah dan paruh besar yang berwarna kehitaman. Di bagian kepala, terdapat jambul besar yang dapat ditegakkan. Perbedaan antara burung jantan dan betina tidak begitu mencolok.

Kakatua Raja merupakan satu-satunya spesies dalam genus tunggal Probosciger. Mereka tersebar di pulau Irian dan bagian utara Australia. Makanan utama Kakatua Raja terdiri dari biji-bijian. Paruh mereka memiliki kemampuan untuk menahan dan membuka biji-bijian untuk dikonsumsi, karena bagian atas dan bawah paruhnya memiliki ukuran yang berbeda, sehingga tidak dapat tertutup rapat.

Meskipun terancam oleh kehilangan habitat hutan dan perburuan liar untuk perdagangan, Kakatua Raja masih sering ditemukan di habitat aslinya. Menurut penilaian IUCN Red List, Kakatua Raja dikategorikan sebagai berisiko rendah. Spesies ini juga termasuk dalam daftar CITES Appendix I, yang mengatur perdagangan internasional untuk melindungi kelestarian mereka.


Di beberapa wilayah, Kakatua Raja dikenal dengan berbagai nama yang berbeda. Nama-nama lokalnya antara lain Alkai (Aru), Awehie (Membramo), Kasmalas (Papua Barat Laut), Mampais (Doreh), Sangya (Sorong), dan Siong (Andai). Sementara dalam bahasa Inggris, burung paruh bengkok ini disebut Palm Cockatoo, Cape York Cockatoo, Great Palm Cockatoo, Black Macaw, Great Black Cockatoo, atau Goliath Cockatoo.

Ciri-ciri Kakatua Raja, atau Palm Cockatoo (Probosciger aterrimus), termasuk jenis burung berukuran besar dengan panjang tubuh sekitar 51 hingga 64 sentimeter dan berat tubuh antara 550 hingga 1000 gram. Bulu tubuhnya berwarna hitam, dengan jambul hitam dan pipi merah. Jambulnya dapat ditegakkan. Paruhnya sangat besar dan panjang, berwarna hitam (paruh betina lebih kecil), dengan lidah merah dan ujung hitam. Lingkar mata hitam, mata coklat gelap, dan kaki abu-abu. Kulit di sekitar muka merah hingga merah muda polos. Di antara mata dan paruh terdapat area tanpa bulu berwarna putih atau merah jingga hingga merah tua. Saat terbang, bulu jambulnya terangkat tinggi, memberikan kesan berdiri tegak.

Penyebaran dan subspesies Kakatua Raja secara global masih mencakup empat varietas yang dikenali, dengan persebaran yang tidak seragam meliputi Pulau Papua, Kepulauan Aru, Pulau Yapen, Pulau Sariba, dan Pulau Mishima.

  • P. a. goliath (Kuhl, 1820) – Terdapat di Papua (kecuali Pulau Misool) dan Papua Nugini.
  • P. a. stenolophus (van Oort, 1911) – Ditemukan di Papua Nugini dan Pulau Yapen.
  • P. a. aterrimus (J. F. Gmelin, 1788) – Berada di Pulau Misool dan Kepulauan Aru.
  • P. a. macgillivrayi (Mathews, 1912) – Habitatnya meliputi dataran rendah di Papua Nugini dan Australia.

Habitat alami Kakatua Raja terletak di hutan hujan tropis dataran rendah, hutan meranggas, hutan sekunder, serta daerah tepi hutan hingga ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Burung ini biasanya mencari makanan di puncak pohon dan berkumpul dalam kelompok besar di hutan terbuka. Mereka aktif pada pagi hari setelah matahari terbit dan kembali ke tempat perching mereka menjelang senja.

Kakatua Raja memakan berbagai jenis makanan termasuk kacang-kacangan seperti kenari, almond, dan kacang pinus, biji-bijian seperti bunga matahari, gandum, jagung, dan jagung segar, serta daun dan biji hijau (kecuali jeruk) karena nutrisinya yang kaya. Paruh besar dan kuat mereka sangat berguna untuk mengupas kulit biji yang keras. Burung ini umumnya terlihat sendirian atau dalam pasangan.

 

Suara Kakatua Raja terdiri dari teriakan keras yang berfungsi sebagai peringatan bagi yang lain ketika menghadapi bahaya. Teriakan tersebut berupa panggilan "KEEYANK!" atau "EEYOHN!" atau "RAAH!!!" yang mirip dengan suara keledai yang sangat keras dan dapat terdengar hingga jauh. Selain itu, mereka juga sering mengeluarkan siulan ure ure yurrr yang keras, berirama, dan lembut dengan jangkauan nada yang luas, dari rendah hingga sangat tinggi, dengan volume yang sangat keras. Suara ini relatif mirip dengan suara marmot namun dengan volume yang lebih keras. Burung Kakatua Raja sangat unik dan menarik perhatian karena kemampuannya menirukan beberapa suara yang diajarkan.

Kakatua Raja mulai berkembang biak sekitar bulan Agustus hingga akhir Januari. Sarangnya biasanya dibuat di lubang pohon, terutama pada batang yang sudah mati. Di dasar sarang diletakkan ranting-ranting kecil sebagai alas dengan diameter sekitar 38 cm. Biasanya telur yang dihasilkan hanya satu, berwarna putih. Telur tersebut dierami oleh kedua induk secara bergantian selama 30 hingga 35 hari. Delapan puluh hari setelah menetas, anak burung meninggalkan sarang.

Perbedaan antara Kakatua Raja jantan dan betina tidak terlalu mencolok dalam bentuk dan ukuran, namun secara umum burung betina cenderung lebih kecil. Mereka memiliki penampilan yang cantik dan mudah dijinakkan. Oleh karena itu, Kakatua Raja sering menjadi burung peliharaan atau burung hias yang populer.

Top of Form



 

 

Komentar

Postingan Populer